Asuhan
keperawatan merupakan serangkaian tindakan untuk memberikan perawatan kepada
klien. Di dalam asuhan keperawatan terdapat proses keperawatan yang terdiri
dari pengkajian, analisis data, intervensi implementasi, dan evaluasi. Seluruh rangkaian proses keperawatan tersebut harus dilakukan
secara runut dan keseluruhan untuk mencapai asuhan keperawatan yang optimal dan
komprehensif. Berikut adalah ulasan masing-masing langkah dalam proses keperawatan:
1.
Assesment (pengkajian)
Pengkajian merupakan langkah awal proses keperawatan.
Pengkajian pada pasien meliputi identitas pasien dan keluarga, keluhan utama,
riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, genogram, riwayat
pengobatan, pola fungsi kesehatan, sosial dan spiritual, dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik bisa dilakukan melalui dua cara yaitu head to toe atau B1-B6. Head to toemerupakan pemeriksaan fisik yang dimulai dari bagian kepala
hingga bagian ekstremitas bawah, yakni kaki secara berurutan, antara lain:
- B1-B6 merupakan pemeriksaan fisik yang mengacu pada tiap
bagian organ.
- B1 (breathing) merupakan pengkajian bagian organ pernapasan.
- B2 (blood) merupakan pengkajian organ yang berkaitan dengan
sirkulasi darah, yakni jantung dan pembuluh darah.
- B3 (brain) merupakan pengkajian fisik mengenai kesadaran dan fungsi
persepsi sensori.
- B4 (bladder) merupakan pengkajian sistem urologi.
- B5 (bowel) merupakan pengkajian sistem digestive atau pencernaan.
- B6 (bone) merupakan pengkajian sistem muskuloskletal dan
integumen.
Seluruh rangkaian pemeriksaan fisik tersebut bisa dilakukan
dengan I-P-P-A (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi), kecuali bagian B5
yang dilakukan secara I-A-P-P. Karena jika dilakukan perkusi dan palpasi
sebelum diauskultasi pada bagian abdomen, dikhawatirkan akan mengubah frekuensi bising usus yang
dievaluasi.
Inspeksi adalah melihat, palpasi adalah meraba, perkusi
adalah mengetuk menggunakan jari, dan auskultasi adalah mendengar menggunakan
stetoskop. Pengkajian diakukan secara berurutan dan didokumentasikan pada
lembar pengkajian.
2. Analisis data
Analisis data merupakan langkah selanjutnya setelah dilakukan
proses pengkajian. Dari data pengkajian yang diperoleh bisa jadi ditemukan
beberapa gangguan atau keluhan. Gangguan atau keluhan tersebut yang kemudian
dianalisis hingga menemukan masalah keperawatan. Analisis data terdiri dari
data, etiologi, dan masalah keperawatan. Data terbagi menjadi dua yaitu data
subjektif (DS) dan data objektif (DO). DS merupakan data yang diperoleh dari
keluhan pasien atau keluarga. Sedangkan DO merupakan data hasil pemeriksaan
fisik yang didapat oleh perawat. Dari DS dan DO dapat ditarik masalah
keperawatan dan dicari etiologi atau penyebabnya. Dari data, etiologi, dan masalah
keperawatan yang muncul dapat ditarik kesimpulan berupa diagnosis keperawatan.
Susunan diagnosis keperawatan adalah P-E-S yaituproblem-etiologi-symptom, atau P-E problem-etiologi saja.
Contoh diagnosis keperawatan: ketidakefektifan bersihan jalan
napas berhubungan dengan penumpukan sekret. Setelah dirumuskan beberapa
diagnosis keperawatan, selanjutnya susunlah prioritas diagnosis keperawatan.
Diagnosis keperawatan yang diletakkan di prioritas pertama adalah diagnosis
keperawatan yang sifatnya mengancam jiwa, misalnya gangguan pertukaran gas,
ketidakefektifan bersihan jalan napas.
Diagnosis juga dibagi menjadi tiga jenis, yaitu diagnosis
keperawatan aktual, risiko, dan potensial. Diagnosis keperawatan aktual adalah
diagnosis yang muncul saat ini dan harus segera mendapat penanganan. Diagnosis
keperawatan risiko adalah hal yang dimungkinkan akan terjadi. Sedangkan
diagnosis potensial adalah diagnosis keperawatan yang disusun karena kondisi
klien yang telah bagus status kesehatannya. Diagnosis potensial biasanya
digunakan pada keperawatan keluarga dan komunitas.
3.
Planning (Intervensi)
Setelah dilakukan analisis data, maka langkah selanjutnya di
dalam proses keperawatan adalah intervensi atau perencanaan. Diagnosis
keperawatan yang didapat pada analisis data selanjutnya dibuatkan perencanaan
untuk masing-masing masalah keperawatan. Acuan penyusunan intervensi pada
masing-masing diagnosis keperawatan dapat dilihat dari buku panduan Diagnosis
Keperawatan. Di dalam penyusunan intervensi terdapat tujuan dan kriteria hasil
yang dugunakan sebagai acuan pelaksanaan intevensi yang akan dilakukan. Tujuan
dan kriteria hasil ini juga bisa dilihat di buku Diagnosis Keperawatan. Di
dalam buku tersebut, terdapat serangkaian intervensi keperawatan yang banyak
pada tiap diagnosis. Kamu bisa memilih poin-poin perencanaaan yang sesuai
dengan kondisi klien yang sedang kamu rawat.
4.
Implementing (penatalaksanaan)
Implementasi adalah tahapan selanjutnya setelah penyusunan
intervensi. Implementasi merupakan tahapan pelaksanaan dari intervensi yang
telah disusun. Dalam implementasi ada kemungkinan tidak semua intervensi yang
direncanakan bisa dilakukan. Jadi di dalam pendokumentasian, implementasi hanya
intervensi yang telah berhasil dilakukan saja yang didokumentasikan. Pada
implementasi juga disebutkan secara jelas terapi yang diberikan kepada pasien
beserta dosisnya. Misalkan pada pasien hipertermia. Pada intervensi
direncanakan akan diberikan kompres dan kolborasi pemberian anti piretik. Maka
di implementasi dituliskan: “diberikan kompres pada area dada, lipatan ketiak,
dan lipatan paha serta pemberian obat parasetamol dengan dosis tertentu.”
5. Evaluasi
Setelah dilakukan implementasi, langkah selanjutnya adalah
melakukan evaluasi. Evaluasi terdiri dari SOAP yaitu Subjective Data, Objective
Data, Analisis,dan Planning, yakni:
- S berisi informasi tentang keluhan pasien saat dilakukan
evaluasi.
- O berisi data hasil pemeriksaan fisik ketika dilakukan
evaluasi.
- A berisi kesimpulan apakah masalah teratasi atau masalah
teratasi sebagian atau masalah belum teratasi.
- P merupakan planning atau perencanaan setelah melihat hasil analisis data. Planning dapat berupa intervensi dilanjutkan, intervensi
dihentikan, atau intervensi dimodifikasi.
Evaluasi dilakukan setiap shift jaga perawat, jadi dalam satu hari akan ada tiga kali
evaluasi. Hasil evaluasi pasien akan disampaikan saat timbang terima yang
dilakukan di tiap pergantian shift jaga.
Proses keperawatan merupakan proses yang hierarkis dan harus dilakukan secara
berurutan. Pengkajian yang lengkap dan komprehensif akan dapat digunakan dalam
analisis data secara detail, sehingga ditemukan diagnosis keperawatan yang
tepat. Dari diagnosis keperawatan yang tepat maka dapat disusun intervensi yang
sesuai dan diimplementasikan kepada pasien. Setelah implementasi, perawat wajib
melakukan evaluasi.
Demikian ulasan mengenai proses keperawatan. Semoga bermanfaat.
0 komentar:
Posting Komentar